https://3.bp.blogspot.com/-1w8fH-0rqZo/XAe1RBhdh5I/AAAAAAAAB38/aC5a46xfmJ8ecCOBgpeZAKjZ1aT77nw9gCK4BGAYYCw/s72-c/island%2Bpeak.jpg

Gua coret nama Semeru dari rentetan nama-nama gunung dalam secarik kertas lusuh dari tahun 2010. Nama-nama gunung yang ingin gua daki. Dicor...
Gua coret nama Semeru dari rentetan nama-nama gunung dalam secarik kertas lusuh dari tahun 2010. Nama-nama gunung yang ingin gua daki. Dicoret setelha turun dari atap pulau Jawa tersebut bersama dua orang kawan, Kukuh, dan Rifan. Ciremei, Semeru, Slamet, Agung, Rinjani, Kerinci, Latimojong, Everest. Dalam-dalam gua tatapi satu-satunya nama gunung yang terletak di luar Indonesia, kemudian berkata dalam hati "sebelum mati, harus!!"

****

"win, dimana?" Tanya seseorang melalui aplikasi whatsapp yang ternyata Puput, asisten Raditya Dika.
"di kosan, put, Kenapa?" jawab gua sambil tiduran.
"si Abang nyuruh ke rumah tuh, bikin video ngobrol-ngobrol di youtube buat bulan puasa"
"kapan?"
"besok sore bisa?"
"bentar" gua buka google calendar untuk memastikan jadwal "bisa put, aman"
"ok, ditunggu ya"

Dengan senang hati gua iya-kan. Radit adalah orang yang membuat gua memulai karir stand up comedy yang sekarang jadi profesi. Gua mengaguminya (baca: bukan mengidolakan hahaha). itulah awal mula pertemuan gua dengan Nugroho, seorang dari antah berantah yang tiba-tiba mengirimkan surel ajakan trip ke Everest.

Sebentar, kenapa dari Radit jadi ke Nugroho? jadi begini.


Keesokan hari setelah diminta oleh puput untuk datang ke rumah radit, gua pergi dari kosan menuju kemang tempat kediaman radit. Jalanan macet Jakarta dengan beragam kelakson orang yang tak sabar, mungkin berharap kemacetan terurai setelah dia menekan tombol di kendaraannya menjadi teman setia setiap perjalanan sore Jakarta. Lampu merah berganti kuning lalu hijau, tapi, mobil gua tetap tidak begerak. Kelakson semakin nyaring. Sesekali terdengar “GOBLOK” dari pengendara motor kepada supir angkot diikuti “treeeeenggggg” gas ditarik kencang, motor menghilang bahkan sebelum supir menyadari siapa yang memaki. 2 jam membosankan gua habiskan di jalan.

Pagar-pagar kokoh berdiri melindungi setiap rumah besar seakan enggan untuk menerima salam. Jarang sekali gua datang ke perumahan seperti ini. “disitu mas” jawab seorang yang di pinggir jalan setelah gua Tanya keberadaan rumah radit. Pagar hitam tinggi sama angkuhnya.

Sampai di rumah, ternyata gua diminta untuk membuat video ngobrol-ngorbol untuk diunggah di kanal youtubenya saat bulan puasa. Macam-macam makanan ‘aneh’ belum pernah gua lihat sebelumnya datang sebagai peneman pelengkap. Obrolan berlangsung satu jam membicarakan seputar keikut sertaan gua dalam sebuah kompetisi komedi terbesar di Malaysia, Maharaja Lawak. Alhamdulillah dapat posisi ketiga. Di tengah obrolan, gua sempat mengutarakan salah satu mimpi gua untuk pergi ke Everest.

Beberapa bulan berlalu, email yang selalu berisi tawaran-tawaran iklan yang nggak pernah terbuka dari gojek, grab, traveloka, BCA, Couchsurfing, Getcraft, CTR, PUBG, CLBK, PDKT, dll. Terselip satu email dari ‘manusia’. Gua tertarik untuk membuka email janggal ini.


Dear Mas Dzawin, 

saya Avicenna Nugroho panggil aja sena, hanya pendaki biasa yang punya mimipi ke mendaki 6000MDPL untuk pertama kali dalam hidup saya, 

kami ber 5 bersama akan mendaki island peak 6200Mdpl di bulan2 agustus/september 2019

Tahun depan merupakan trip ke 3 saya ke everest track dan juga menjadi tracking terakhir saya mendaki gunung diatas 3000mdpl. 

Kalau mas Dzawin berminat bisa join dengan kita, monggo, semakin banyak team akan meringankan cost total kita untuk share guide dan poter. 

Ini bukan sponsor mas, jadi sekedar ajakan bila berminat. 

note: kenapa ajakan ini jauh2 hari karena kita perlu perisapan fisik & cost  bersama, dan 5 personel kami tersebar gak cuma di jakarta, ada yg di kalimantan dan sumatera

Salam
sena
08158*****

Itulah isi surel dari Nugroho, ajakan untuk pergi ke Island peak yang ada di Everest track. Sempat terdiam membaca surel tersebut. Beberapa kenangan masa lalu kembali membayang, disaat gua menulis nama-nama gunung di selembar kertas dalam kamar rumah lantai dua dengan genteng bocor dan kayu penuh rayap. Segera gua kirim pesan melalui nomer yang sudah disertakan di dalam surel. Sebuah pernyataan terimakasih sedalam-dalamnya karna sudi mengajak pendaki baru ini ikut serta. Setelah itu gua meminta untuk tatap muka sekedar mengobrol.

Setelah beberapa minggu akhirnya kami bertemu di sebuah kedai kopi daerah Cibubur. Cukup lama kami mengobrol bukan hanya tentang perencanaan pendakian tapi juga banyak hal menandakan adanya kecocokan, Alhamdulillah. Setelah mendengar berbagai macam sarat pendakian mulai dari pendanaan dan juga persiapan fisik, gua mantapkan hati ini untuk ikut serta dalam pendakian yang akan dimulai di antara bulan Agustus dan November. Sempat terdiam saat mendengar jumlah biaya yang harus disiapkan, tapi, apalah arti kerja keras yang gua lakukan beberapa tahun kebelakang jika tidak rela mewujudkan kesempatan ini.

Sempat terkejut saat mendengar alasannya mengajak gua untuk ikut dalam tim. Ternyata dia sempat menonton video obrolan gua dan radit yang di dalamnya gua mengutarakan mimpi gua untuk pergi ke Everest. Terimakasih teruntuk raditya dika yang mempertemukan gua dengan nugroho, dan terimakasih nugroho yang sudi mengajak gua. Betapa mimpi bisa terwujud dari jalan yang tidak terduga.

Dan jika ada pembaca gua yang juga punya mimpi yang sama, find the way to contact me. (pake bahasa inggri biar keren)


*Nugroho

Sudah lama sekali sebetulnya ingin membahas hal ini, tapi, entah kenapa ada saja alasan yang mengurungkan niat tersebut. Mungkin takut. En...

Sudah lama sekali sebetulnya ingin membahas hal ini, tapi, entah kenapa ada saja alasan yang mengurungkan niat tersebut. Mungkin takut. Entah. Tapi, sekarang gua rasa sudah saatnya untuk mengambil sikap dan mengutarakan pendapat.

Tanggal 25 Desember hanya tinggal hitungan hari. Setiap tahunnya selalu saja ada perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim kepada yang merayakan. Baik di sosial media maupun secara langsung. Setiap tahun pula gua disuguhkan dengan perdebatan yang terkadang dilengkapi dengan umpatan dan cacian.

Di twitter, setiap tahun, mata ini selalu disuguhkan dengan perdebatan antara ’si yang mengucapkan’ selamat natal dan ‘si yang tidak mengucapkan’. Yang mengucapakan menuding “ah dasar islam radikal” dan yang tidak mengucapkan menuding “ah dasar kafir”. Bicara soal toleransi antar umat beragama dan di saat yang bersamaan terjadi tindak intoleran. Lucu.

Dan yang lebih lucu adalah, ketika gua menyadari bahwa kedua kawan tersebut sama-sama jarang solat. Ingin rasanya tertawa dan menangis di saat yang bersamaan.

Jujur, gua tidak mengucapkan selamat natal (dengan alasan pengetahuan gua yang terbatas) karna buat gua, toleransi bukan berarti berpartisipasi. Gua tidak mengusik kawan-kawan gua yang nasrani untuk merayakan natal. Juga tidak keberatan bila seorang kawan muslim mengucapkan selamat natal.

Dengan catatan, mengucapkan atau tidak, tetap harus dengan landasan pengetahuan. Bukan semata agar dianggap toleran atau taat.

Mari sama-sama menghargai pilihan masing-masing.