Gili trawangan selalu punya tempat khusus di hati gua. Tidak pernah ada rasa bosan meskipun bukan kali pertama kesana. Yang beda hanya seb...

Gili trawangan selalu punya tempat khusus di hati gua. Tidak pernah ada rasa bosan meskipun bukan kali pertama kesana. Yang beda hanya sebelumnya selalu ada yang menemani, tapi, yang terakhir ini hanya sendiri. Kalo dulu selalu menginap di hotel, kali ke-empat ini gua ingin menjajal untuk menginap di hostel. Selain murah, gua juga berharap bisa dapat kenalan baru.

Sama seperti dulu, ketika kaki kanan menginjakkan langkah pertama di pasir pantai gili trawangan, mata ini langsung disuguhkan bikini berwarna-warni yang sliweran melintas dari segala arah dengan bermacam-macam model; bulat, segitiga, kotak, trapesium. Jujur aja, gua sempat terangsang hahaha ya normal doooong. Sampai akhirnya terasa biasa karna gumoh (baca: kebanyakan). Memang, jika terlalu banyak akhrinya tidak spesial, jika terlalu diumbar akhirnya membosankan.

Setelah puas melihat hingar bingar bikini di pulau dengan air sangat bening sampai ikan pun enggan bercinta sembarangan, akhirnya gua berjalan ke hostel yang sebelumnya sudah dipesan. Sampai sana ternyata hostel dengan kapasitas empat orang satu kamar dengan ranjang susun yang mengingatkan pesantren dulu, sudah diisi satu orang bule laki yang akhirnya gua ketahui dari kanada.

Sempat kikuk karna lama berdiam tanpa obrolan yang akhirnya terpecah dengan kata sakti “hai”. Gua beranikan diri membuka obrolan yang ternyata berbalas ramah. Lama obrolan berlangsung sampai akhirnya sampai pada sebuah pertanyaan.

“do you have a girlfriend?” Tanya dia yang sempat membuat gua berpikir dia mau nembak gua.
“yes I do have a girlfriend in Malaysia” jawab gua lugas
“do you love her?” pertanyaan ini membuat gua semakin heran, tapi kemudian mengalir begitu saja.
“yes I do”
“do you want to marry her?”
“I don’t know”
“why?”
“cause, I love my country more than I love her” jawaban gua bikin dia tersenyum sedikit sinis
“so, you love your country”
“yeah”
“why?” mendadak pertanyaan ini bikin gua terdiam sesaat dan memikirkan kembali “kenapa ya?” yang kemudian gua jawab dengan jawaban klise.
“because of culture, good people, kindness, I was born here then I want to die here” jawaban gua diikuti senyuman dia.
“so, have u been in another country?” Tanya dia lagi
“I’ve been ini Malaysia, Singapore, Thailand”
“have u been in Europe?”
“no I haven’t”
“so, how could you say that you love your country while you have never been in another country” pertanyaan ini membuat gua kembali terdiam dan mempertanyakan kembali rasa gua terhada Negara ini, 'do I love my country?'.

Begitulah rangkuman dari obrolan yang sebetulnya panjang. Setelah obrolan itu, beberapa kali gua berpikir ulang “do I love my country?” apakah betul gua benar-benar mencintai negri ini? Atau hanya karna tidak ada pilihan? Bagaimana bisa mencintai bahkan tanpa mengenali?

Ketika seorang pria mencintai wanitanya kemudian memutuskan untuk menikahinya, dia punya pilihan untuk mencintai wanita lain. Tapi ketika seorang pria mencintai negaranya, apakah itu karna betul cinta? Atau hanya karna tidak ada pilihan?

Mungkin ini bisa jadi salah satu alasan agar kaki ini bisa melangkah menembus perbatasan.

Lalu, apa yang kalian pikirkan? Senang hati saya membaca komentar teman-teman.