https://2.bp.blogspot.com/-WHWK_9jHZXw/WpiKkk-htgI/AAAAAAAABlI/WtnkPSiRouYGSXJyBkhAFkh-rlXzNnYJACK4BGAYYCw/s72-c/IMG_20180302_035428.jpg

“oi win, lepak kt rumah aku lah” ajak Issey, temen gua di Malaysia. “ok lah” jawab gua mengiyakan sambil menikmati kekalahan mobile l...


“oi win, lepak kt rumah aku lah” ajak Issey, temen gua di Malaysia.
“ok lah” jawab gua mengiyakan sambil menikmati kekalahan mobile legend.

Gua dan Issey pun bergegas pergi dari kantor selepas semua pekerjaan selesai. Sampai depan apartement, gua mampir ke seven eleven (yang udah jadi mitos di Indonesia) untuk sekedar beli cemilan sebagai teman ngobrol. Gua beli botol besar aer putih dan coca cola. Sedangkan issey, dia nggak beli apa-apa, tapi, dia yang bayar.

Sampai dalam rumah, obrolan dimulai dengan segelas coca cola dan sebatang rokok dilanjut tawa dari hal-hal yang tidak terlalu penting. Sampai akhirnya malam tiba, issey pergi tidur, dan gua pergi main mobile legend untuk membalas kekalahan yang akhirnya kalah juga hahahaha.

Gua berhenti maen mobile legend, bakar sebatang dan kembali mengisi gelas dengan coca cola. Sampai akhirnya gua tersenyum karna terpikir betapa mudahnya gua beli coca cola sekarang (Alhamdulillah) karna dulu gua kalo mau beli coca cola botol besar, mungkin sekitar sebulan sekali. Karna, dulu emak gua harus sangat menghemat agar anak-anaknya bisa bersekolah di sekolah yang bagus.

Kemudian kepala gua mulai teringat banyak hal yang dulu gua rasa tidak mungkin. Seperti pada saat pertama kali gua pergi ke Jawa Timur.

“win, sini win” panggil nopiar sambil membuka tas nya di stasiun senen, Jakarta, dan gua pun mendekat.
“liat nih win” dia menunjukan golok di dalam tasnya. Gua ingat batang golok itu ada ukiran kepala macan.
“HAHAHAHAHAHA GELO SIA” tawa gua “ngapain bawa gituan?”
“biar aman win” jawab dia yakin “biar nanti kalo ada yang macem-macem kita keluarin”

Gua cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa. Setelah solat jum’at kami masuk ke stasiun untuk naik kreta Super Ekonomi Matarmaja. Dulu, kreta ekonomi memiliki sistem tempat duduk siapa cepat dia dapat angkat pantat hilang tempat. Alhamdulillah kami dapat tempat duduk setelah berjuang berlari di koridor kreta.

Pertama kali duduk, kami bersyukur karna banyak yang ga kebagian tempat duduk dan harus berdiri. Tapi, lama-kelamaan rasa sukur ini berubah menjadi kufur nikmat sedikit demi sedikit, karna tempat duduknya memiliki sandaran terlalu tegak yang kurang manusiawi hahahahaha (pegel anjeeerrrr).

Singkat cerita, sampailah kreta di stasiun Cirebon, biasanya, di stasiun ini orang-orang banyak keluar dari kreta untuk beli makanan atau sekedar mencari nafas segar setelah berjam-jam dalam keadaan tersiksa, di stasiun Cirebon biasanya kreta berhenti cukup lama.

Gua pun keluar untuk menghirup udara yang lebih manusiawi, dan juga menghisap sebatang rokok, mau beli makanan tapi mikir “kalo beli nasi sekarang, nanti sampe Kediri lapar lagi” dengan konsep berpikir itu lah gua menunda untuk membeli nasi.

Baru setengah batang rokok terhisap, datang kreta eksekutif (kalo ga salah namanya gaya baru malam). Dari luar terlihat kaca kreta berembun tanda adanya ace dalam kreta. Kemudian gua mengintip ke dalam kereta layaknya anak pedalaman yang mengintip anak beruntung lainnya yang dapat bersekolah.

Terlihat kursi yang sangat luas dengan leg room  yang luas juga. Kalo di kreta ekonomi, lutut kita akan bertemu dengan lutut penumpang lainnya. Kalo lagi apes dapet tempat duduk depan orang yang tinggi, ga jarang lutut dia masuk ke selangkangan gua.

Saat itu gua berpikir “orang kayak gimana ya yang naik kreta eksekutif? Kerja apa ya dia?” karna saat itu harga kreta ekonomi adalah 45rb, sedangkan eksekutif 300rb-an. Pada saat itu gua berpikir orang seperti apa yang rela mengeluarkan ongkos lebih dari 6 kali lipat hanya untuk mendapatkan kenyamanan.

Kembali gua tersenyum mengingat itu, karna, sekarang gua lah yang naik kreta eksekutif. Bahkan disaat gua nulis ini, air mata gua nggak sengaja keluar dan harus sejenak menjauhkan jari dari keyboard laptop untuk menyapu mata. Karna, gua nggak nyangka sekarang sedikit demi sedikit gua sudah menjadi apa yang gua hayalkan dulu.

Tanpa ada niat untuk sombong, gua menulis ini untuk kembali mengingat apa saja perubahan yang sudah terjadi, dan apa saja yang masih belum berubah. Karna, terkadang kita butuh cermin.

 Mahfudzot yang pertama kali gua pelajari adalah “man jadda wajada” yang artinya “barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka berhasil lah dia” gua yakin bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Terkadang gua menangis waktu nyetir dalam hujan, karna gua nggak perlu lagi meneduh. Atau karna gua belum sempat ngajak emak gua ke taman safari.


Damansara, 03-02-2018