https://2.bp.blogspot.com/-_uvVr9hX__4/Wo_z7Nr2YqI/AAAAAAAABkk/BUaRgcH2WiEcDEHx44VnJ6ualT9qv2j4wCLcBGAs/s72-c/dzawin%2Bmenang.jpg

“nih bang” gua menjulurkan tangan ke bapak-bapak yang bisa baca garis tangan di Kota Tua, Jakarta. “hhhmmmm” dia mengelus-ngelus tanga...


“nih bang” gua menjulurkan tangan ke bapak-bapak yang bisa baca garis tangan di Kota Tua, Jakarta.
“hhhmmmm” dia mengelus-ngelus tangan gua
“kamu ini playboy” lanjut si bapak
“hahahahahahahaha” kami menyambut jawaban si bapak dengan tawa yang besar, karna pada saat itu gua udah jomblo 3 tahun lebih.
“ciieeee jawin playboy” teriak Umar yang tau gua ini malu kalo liat cewe.
Gua tetap mendengarkan si bapak, mencoba untuk menghargai dia.
“ini nama garisnya ini (gua lupa namanya), kamu ini rezeki ada di perantauan” lanjut si bapak

Itu adalah cerita tahun 2010 waktu gua pertama kali liat tukang baca garis tangan dan mencobanya di Kota Tua, Jakarta.

Sekarang gua udah tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Rasanya kayak mimpi sebetulnya. Sedikit demi sedikit bucket list yang gua tulis dari SMP mulai tercoret satu persatu. Seperti; masuk tv, beli motor, beli mobil, jadi presenter, diundang talkshow (walaupun dulu gua berharap diundang sebagai cendikiawan, bukan comedian hahahaha), dan masih banyak lagi.

Mimpi itu terwujud perlahan dengan usaha yang cukup berat, mimpi lama terwujud, mimpi baru terlahir, begitu terus sampai meninggal.

Cukup banyak pertanyaan yang datang ke gua, seperti ketika gua nongkrong di warkop depan asrama.
“win, betah tinggal di Negara orang?” Tanya temen gua.
“betahin aja” jawab gua simple kemudian lanjut maen mobile legend

Awalnya harus diakui gua cukup tersiksa dengan perbedaan budaya yang ada di Malaysia, terutama bahasa. Mungkin kita sering dengar bahasa di Malaysia dari cerita Ipin Upin di TV, tapi, bahasa sehari2 yang ada di sini cukup jauh berbeda. Layaknya bahasa sinetron yang ada di TV, kita ga pernah menggunakan bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari kan.

Ga mungkin kita mau makan indomie di warkop
“mau makan apa dik?” Tanya tukang warkop
“paman, tolong buatkan saya semangkuk mie dengan telur setengah matang di atasnya”
“baiklah dik, akan paman buatkan” jawab si tukang warkop.

Yang terjadi adalah
“mang, mie telor satu”
“minumnya?” Tanya si tukang warkop.
“es teh” kemudian duduk dan si mamang masak.

Awal-awal bahkan gua menyempatkan diri untuk pergi ke SIKL (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur) hanya untuk bisa berbicara bahasa Indonesia. Tapi, lama kelamaan gua semakin bisa menyesuaikan diri dengan budaya yang ada. Sedikit demi sedikit gua pelajari bahasa yang ada disini, bukan Cuma itu, gua juga mencoba untuk mempelajari aksen setempat. Sulit.

Untungnya gua dari dulu sudah terbiasa ikut banyak organisasi dan bertemu dengan berbagai macam jenis orang, sehingga mungkin itu yang membantu gua untuk lebih mudah menyesuaikan diri dan berbaur dengan orang baru disini.

Dan yang terpenting yang membuat gua bertahan tinggal di negri orang adalah, hal yang gua pelajari tahun 2005 silam.
“safir tajid iwadon amman tufarikuhu”
yang artinya:
“berkelanalah (merantaulah) maka kau akan dapat ganti dari yang kau tinggalkan”

Itu yang menjadi salah satu moto hidup gua. kosan gua tinggal di Jakarta, gua dapet kosan baru di Kuala Lumpur. Mobil gua tinggal di Jakarta, gua dapet mobil baru di Kuala Lumpur. Dan yang terberat adalah teman gua tinggalkan di Jakarta, tapi, gua dapat teman baru di Kuala Lumpur (bukan berarti memutus silaturahmi).

Yang ingin gua sampaikan adalah “jangan pernah takut meninggalkan yang kita miliki, karna nanti pasti tuhan ganti”


                                                                                                             salam dari Kuala Lumpur


13 comments:

  1. Semangat terus bg dzawin, kamu pekerja keras dan berkepribadian yang unik.. terlihat pecicilan tapi bijak juga dalam berkata2...

    ReplyDelete
  2. Semangat terus bg dzawin, kamu pekerja keras dan berkepribadian yang unik.. terlihat pecicilan tapi bijak juga dalam berkata2...

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Semangat terus bg dzawin..
    Gapai terus impianmu..
    Bg dzawin laki2 yang berkepribadian unik. Terlihat pecicilan tapi bisa berkata2 bijak juga..

    ReplyDelete
  5. aku ngefans lu win
    aku juga tamatan psantren, seneng dengerin standup lu tntang anak nyantri
    kepribadian lu ngga dibikin2. proses perjuangan sampai dititik skarang layak jadi contoh. keren.

    ReplyDelete
  6. Steady win. Gua minat lu dari first gua nonton maharaja lawak mega.

    ReplyDelete
  7. Dari nontonin video youtube, berlanjut bacain blog nya πŸ‘ mantap.

    ReplyDelete
  8. πŸ’•πŸ’•πŸ’• bang dzawiiin....

    ReplyDelete
  9. Suka sama motonya dong, mantap πŸ‘πŸ½

    ReplyDelete
  10. “berkelanalah (merantaulah) maka kau akan dapat ganti dari yang kau tinggalkan”


    Enam tahun lalu kalimat ini ayah selalu ulang-ulang buat adikku, karena adikku dikirim ke Ponpes dan jadi santri. Tiga tahun yang lalu, kalimat ini akhirnya diucapkan buatku, ternyata rasanya merantau seperti ini, ada susah ada senangnya haha

    Sempat pesimis, namun akhirnya optimis, ternyata beradaptasi tidaklah terlalu rumit.

    Ahhahaha, maaf bang gua komen dimana-mana eheheh

    ReplyDelete