https://3.bp.blogspot.com/-1w8fH-0rqZo/XAe1RBhdh5I/AAAAAAAAB38/aC5a46xfmJ8ecCOBgpeZAKjZ1aT77nw9gCK4BGAYYCw/s72-c/island%2Bpeak.jpg

Gua coret nama Semeru dari rentetan nama-nama gunung dalam secarik kertas lusuh dari tahun 2010. Nama-nama gunung yang ingin gua daki. Dicor...
Gua coret nama Semeru dari rentetan nama-nama gunung dalam secarik kertas lusuh dari tahun 2010. Nama-nama gunung yang ingin gua daki. Dicoret setelha turun dari atap pulau Jawa tersebut bersama dua orang kawan, Kukuh, dan Rifan. Ciremei, Semeru, Slamet, Agung, Rinjani, Kerinci, Latimojong, Everest. Dalam-dalam gua tatapi satu-satunya nama gunung yang terletak di luar Indonesia, kemudian berkata dalam hati "sebelum mati, harus!!"

****

"win, dimana?" Tanya seseorang melalui aplikasi whatsapp yang ternyata Puput, asisten Raditya Dika.
"di kosan, put, Kenapa?" jawab gua sambil tiduran.
"si Abang nyuruh ke rumah tuh, bikin video ngobrol-ngobrol di youtube buat bulan puasa"
"kapan?"
"besok sore bisa?"
"bentar" gua buka google calendar untuk memastikan jadwal "bisa put, aman"
"ok, ditunggu ya"

Dengan senang hati gua iya-kan. Radit adalah orang yang membuat gua memulai karir stand up comedy yang sekarang jadi profesi. Gua mengaguminya (baca: bukan mengidolakan hahaha). itulah awal mula pertemuan gua dengan Nugroho, seorang dari antah berantah yang tiba-tiba mengirimkan surel ajakan trip ke Everest.

Sebentar, kenapa dari Radit jadi ke Nugroho? jadi begini.


Keesokan hari setelah diminta oleh puput untuk datang ke rumah radit, gua pergi dari kosan menuju kemang tempat kediaman radit. Jalanan macet Jakarta dengan beragam kelakson orang yang tak sabar, mungkin berharap kemacetan terurai setelah dia menekan tombol di kendaraannya menjadi teman setia setiap perjalanan sore Jakarta. Lampu merah berganti kuning lalu hijau, tapi, mobil gua tetap tidak begerak. Kelakson semakin nyaring. Sesekali terdengar “GOBLOK” dari pengendara motor kepada supir angkot diikuti “treeeeenggggg” gas ditarik kencang, motor menghilang bahkan sebelum supir menyadari siapa yang memaki. 2 jam membosankan gua habiskan di jalan.

Pagar-pagar kokoh berdiri melindungi setiap rumah besar seakan enggan untuk menerima salam. Jarang sekali gua datang ke perumahan seperti ini. “disitu mas” jawab seorang yang di pinggir jalan setelah gua Tanya keberadaan rumah radit. Pagar hitam tinggi sama angkuhnya.

Sampai di rumah, ternyata gua diminta untuk membuat video ngobrol-ngorbol untuk diunggah di kanal youtubenya saat bulan puasa. Macam-macam makanan ‘aneh’ belum pernah gua lihat sebelumnya datang sebagai peneman pelengkap. Obrolan berlangsung satu jam membicarakan seputar keikut sertaan gua dalam sebuah kompetisi komedi terbesar di Malaysia, Maharaja Lawak. Alhamdulillah dapat posisi ketiga. Di tengah obrolan, gua sempat mengutarakan salah satu mimpi gua untuk pergi ke Everest.

Beberapa bulan berlalu, email yang selalu berisi tawaran-tawaran iklan yang nggak pernah terbuka dari gojek, grab, traveloka, BCA, Couchsurfing, Getcraft, CTR, PUBG, CLBK, PDKT, dll. Terselip satu email dari ‘manusia’. Gua tertarik untuk membuka email janggal ini.


Dear Mas Dzawin, 

saya Avicenna Nugroho panggil aja sena, hanya pendaki biasa yang punya mimipi ke mendaki 6000MDPL untuk pertama kali dalam hidup saya, 

kami ber 5 bersama akan mendaki island peak 6200Mdpl di bulan2 agustus/september 2019

Tahun depan merupakan trip ke 3 saya ke everest track dan juga menjadi tracking terakhir saya mendaki gunung diatas 3000mdpl. 

Kalau mas Dzawin berminat bisa join dengan kita, monggo, semakin banyak team akan meringankan cost total kita untuk share guide dan poter. 

Ini bukan sponsor mas, jadi sekedar ajakan bila berminat. 

note: kenapa ajakan ini jauh2 hari karena kita perlu perisapan fisik & cost  bersama, dan 5 personel kami tersebar gak cuma di jakarta, ada yg di kalimantan dan sumatera

Salam
sena
08158*****

Itulah isi surel dari Nugroho, ajakan untuk pergi ke Island peak yang ada di Everest track. Sempat terdiam membaca surel tersebut. Beberapa kenangan masa lalu kembali membayang, disaat gua menulis nama-nama gunung di selembar kertas dalam kamar rumah lantai dua dengan genteng bocor dan kayu penuh rayap. Segera gua kirim pesan melalui nomer yang sudah disertakan di dalam surel. Sebuah pernyataan terimakasih sedalam-dalamnya karna sudi mengajak pendaki baru ini ikut serta. Setelah itu gua meminta untuk tatap muka sekedar mengobrol.

Setelah beberapa minggu akhirnya kami bertemu di sebuah kedai kopi daerah Cibubur. Cukup lama kami mengobrol bukan hanya tentang perencanaan pendakian tapi juga banyak hal menandakan adanya kecocokan, Alhamdulillah. Setelah mendengar berbagai macam sarat pendakian mulai dari pendanaan dan juga persiapan fisik, gua mantapkan hati ini untuk ikut serta dalam pendakian yang akan dimulai di antara bulan Agustus dan November. Sempat terdiam saat mendengar jumlah biaya yang harus disiapkan, tapi, apalah arti kerja keras yang gua lakukan beberapa tahun kebelakang jika tidak rela mewujudkan kesempatan ini.

Sempat terkejut saat mendengar alasannya mengajak gua untuk ikut dalam tim. Ternyata dia sempat menonton video obrolan gua dan radit yang di dalamnya gua mengutarakan mimpi gua untuk pergi ke Everest. Terimakasih teruntuk raditya dika yang mempertemukan gua dengan nugroho, dan terimakasih nugroho yang sudi mengajak gua. Betapa mimpi bisa terwujud dari jalan yang tidak terduga.

Dan jika ada pembaca gua yang juga punya mimpi yang sama, find the way to contact me. (pake bahasa inggri biar keren)


*Nugroho

Sudah lama sekali sebetulnya ingin membahas hal ini, tapi, entah kenapa ada saja alasan yang mengurungkan niat tersebut. Mungkin takut. En...

Sudah lama sekali sebetulnya ingin membahas hal ini, tapi, entah kenapa ada saja alasan yang mengurungkan niat tersebut. Mungkin takut. Entah. Tapi, sekarang gua rasa sudah saatnya untuk mengambil sikap dan mengutarakan pendapat.

Tanggal 25 Desember hanya tinggal hitungan hari. Setiap tahunnya selalu saja ada perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim kepada yang merayakan. Baik di sosial media maupun secara langsung. Setiap tahun pula gua disuguhkan dengan perdebatan yang terkadang dilengkapi dengan umpatan dan cacian.

Di twitter, setiap tahun, mata ini selalu disuguhkan dengan perdebatan antara ’si yang mengucapkan’ selamat natal dan ‘si yang tidak mengucapkan’. Yang mengucapakan menuding “ah dasar islam radikal” dan yang tidak mengucapkan menuding “ah dasar kafir”. Bicara soal toleransi antar umat beragama dan di saat yang bersamaan terjadi tindak intoleran. Lucu.

Dan yang lebih lucu adalah, ketika gua menyadari bahwa kedua kawan tersebut sama-sama jarang solat. Ingin rasanya tertawa dan menangis di saat yang bersamaan.

Jujur, gua tidak mengucapkan selamat natal (dengan alasan pengetahuan gua yang terbatas) karna buat gua, toleransi bukan berarti berpartisipasi. Gua tidak mengusik kawan-kawan gua yang nasrani untuk merayakan natal. Juga tidak keberatan bila seorang kawan muslim mengucapkan selamat natal.

Dengan catatan, mengucapkan atau tidak, tetap harus dengan landasan pengetahuan. Bukan semata agar dianggap toleran atau taat.

Mari sama-sama menghargai pilihan masing-masing.



Gili trawangan selalu punya tempat khusus di hati gua. Tidak pernah ada rasa bosan meskipun bukan kali pertama kesana. Yang beda hanya seb...

Gili trawangan selalu punya tempat khusus di hati gua. Tidak pernah ada rasa bosan meskipun bukan kali pertama kesana. Yang beda hanya sebelumnya selalu ada yang menemani, tapi, yang terakhir ini hanya sendiri. Kalo dulu selalu menginap di hotel, kali ke-empat ini gua ingin menjajal untuk menginap di hostel. Selain murah, gua juga berharap bisa dapat kenalan baru.

Sama seperti dulu, ketika kaki kanan menginjakkan langkah pertama di pasir pantai gili trawangan, mata ini langsung disuguhkan bikini berwarna-warni yang sliweran melintas dari segala arah dengan bermacam-macam model; bulat, segitiga, kotak, trapesium. Jujur aja, gua sempat terangsang hahaha ya normal doooong. Sampai akhirnya terasa biasa karna gumoh (baca: kebanyakan). Memang, jika terlalu banyak akhrinya tidak spesial, jika terlalu diumbar akhirnya membosankan.

Setelah puas melihat hingar bingar bikini di pulau dengan air sangat bening sampai ikan pun enggan bercinta sembarangan, akhirnya gua berjalan ke hostel yang sebelumnya sudah dipesan. Sampai sana ternyata hostel dengan kapasitas empat orang satu kamar dengan ranjang susun yang mengingatkan pesantren dulu, sudah diisi satu orang bule laki yang akhirnya gua ketahui dari kanada.

Sempat kikuk karna lama berdiam tanpa obrolan yang akhirnya terpecah dengan kata sakti “hai”. Gua beranikan diri membuka obrolan yang ternyata berbalas ramah. Lama obrolan berlangsung sampai akhirnya sampai pada sebuah pertanyaan.

“do you have a girlfriend?” Tanya dia yang sempat membuat gua berpikir dia mau nembak gua.
“yes I do have a girlfriend in Malaysia” jawab gua lugas
“do you love her?” pertanyaan ini membuat gua semakin heran, tapi kemudian mengalir begitu saja.
“yes I do”
“do you want to marry her?”
“I don’t know”
“why?”
“cause, I love my country more than I love her” jawaban gua bikin dia tersenyum sedikit sinis
“so, you love your country”
“yeah”
“why?” mendadak pertanyaan ini bikin gua terdiam sesaat dan memikirkan kembali “kenapa ya?” yang kemudian gua jawab dengan jawaban klise.
“because of culture, good people, kindness, I was born here then I want to die here” jawaban gua diikuti senyuman dia.
“so, have u been in another country?” Tanya dia lagi
“I’ve been ini Malaysia, Singapore, Thailand”
“have u been in Europe?”
“no I haven’t”
“so, how could you say that you love your country while you have never been in another country” pertanyaan ini membuat gua kembali terdiam dan mempertanyakan kembali rasa gua terhada Negara ini, 'do I love my country?'.

Begitulah rangkuman dari obrolan yang sebetulnya panjang. Setelah obrolan itu, beberapa kali gua berpikir ulang “do I love my country?” apakah betul gua benar-benar mencintai negri ini? Atau hanya karna tidak ada pilihan? Bagaimana bisa mencintai bahkan tanpa mengenali?

Ketika seorang pria mencintai wanitanya kemudian memutuskan untuk menikahinya, dia punya pilihan untuk mencintai wanita lain. Tapi ketika seorang pria mencintai negaranya, apakah itu karna betul cinta? Atau hanya karna tidak ada pilihan?

Mungkin ini bisa jadi salah satu alasan agar kaki ini bisa melangkah menembus perbatasan.

Lalu, apa yang kalian pikirkan? Senang hati saya membaca komentar teman-teman.









https://3.bp.blogspot.com/-r0z1eOgbH6M/W313OwxuIqI/AAAAAAAAB1g/f1wO7GhcO8cxskCldQo1byOf3C2qOd83ACLcBGAs/s72-c/karjaw.jpg

Udah lama banget sejak pertama kali gua pengen berangkat ke karimunjawa, dari jaman awal-awal kuliah. Tapi, apa daya, dulu gua nggak p...


Udah lama banget sejak pertama kali gua pengen berangkat ke karimunjawa, dari jaman awal-awal kuliah. Tapi, apa daya, dulu gua nggak punya dana. Buat beli sepatu gunung aja harus nabung dan makan sehari sekali selama 6 bulan. Dan akhirnya cita-cita mulia ini bisa terwujud setelah gua turun dari gunung prau, jawa tengah. Bermula dari percakapan di basecamp prau setelah turun.

“kemana lagi nih next?” Tanya Heru sambil garuk-garuk pantat karna celananya lembab.
“ke kerinci apa ya?” jawab Ari becanda dilanjut tangan gua yang bergerak sendiri ngeplak palanya.
“biji lu tujuh!!! Ke karimunjawa aja gimana?” jawab gua
“budgetnya berapa?” Tanya Heru

Pertanyaan budget ini memang hampir selalu menjadi pertanyaan pertama yang ditanyakan ketika gua ngajakin jalan temen-temen gua. Karna, buat gua juga memang itu yang paling utama hahaha. Setelah pertanyaan itu gua langsung buka HP gua dan mulai mencari cara supaya bisa ke karimunjawa juga mencari kegiatan apa aja yang bisa dilakuin disana.

Setelah browsing akhirnya ketemu bahwa kalo mau ke karimunjawa, gua harus naik bis 3/4 dari basecamp prau ke terminal Wonosobo, dilanjut naik bus ke Terminal Terboyo Semarang, terus sambung bis 3/4 ke Jepara, diakhiri naik becak/ojek/taksi/jalan kaki ke pelabuhan Kartini untuk naik kapal ke Karimunjawa.

Setelah ketemu jalan dan budget kasarnya, akhirnya kami mulai beberes. Misahin baju kotor sama yang bersih, bersihin sandal, dan bagian tersulitnya adalah mandi, asli aernya dingin parah. Hasilnya, setelah mandi, badan gua menggigil, bulu kuduk berdiri, dan biji mengkerut kayak kura-kura yang palanya masuk ke batok kalo merasa terancam.

Karna kedinginan, beres mandi gua langsung berjemur dibawah terik matahari. Waktu gua berjemur, gua ngeliat ada bocak balita lagi dimandiin ama emaknya tanpa ada gelagat kedinginan. Ngeliat itu, biji gua makin masuk ke batok karna malu.

Setelah semuanya beres, gua langsung cabut dari basecamp dan naik bis 3/4 menuju terminal Wonosobo dengan harga Rp 20.000. setelah 2 jam perjalanan akhirnya sampe di terminal Wonosobo sekitar jam 5 sore. Tanpa berlama-lama gua langsung nyari bis tujuan Semarang. Bis jurusan Semarang berangkat jam 8 malam dan sampai sekitar jam 12 malam dengan harga Rp. 35.000.

Malasah datang ketika sampai di terminal Terboyo, Semarang. Buat gua, ini terminal serem, gelap tanpa penerangan yang cukup, becek dengan air hitam, dan lumayan bau diawal sebelum hidung melakukan penyesuaian. Dengan wajah mencoba terlihat nggak takut gua jalan menuju warung-warung yang ada di dalam terminal, untung waktu itu gua jalan bertiga jadi kalo ada yang malak gua akan teriak “dia aja nih bang, duitnya banyak” dan gua lari.



Setelah liat-liat beberapa warung, akhirnya gua mampir untuk makan dan cari informasi di warung yang dijaga ibu-ibu.

“misi bu” sambil duduk di warung.
“makan nak?” jawab si ibu, ramah.
“iya bu, masa dagang” canda gua sambil liat-liat menu makanan yang Cuma ada telor dibumbuin.
“masih baru kok, nasinya juga masih anget” nada si ibu berubah jadi agak ketus, mungkin dia mikir gua meragukan masakannya.

Setelah itu gua makan, dan ternyata telornya keras, masih baru, baru dihangatkan ketujuh kalinya. Waktu makan sempet gua mikir, apa gua makan biji telor temen gua aja ya? Hahahaha. Setelah makan gua Tanya si ibu.

“bu, bis yang ke Jepara adanya jam berapa ya?” Tanya gua
“oh kalo itu adanya jam 6” jawab dia.

Gua langsung cek google map dan ternyata perjalanan kesana makan waktu 1 jam, itu kalo pake mobil pribadi,  kalo pake bis mungkin bisa 2 jam ditambah ngetem. Sedangkan kapal yang ke karimunjawa berangkat jam 6 dan hanya ada 1 setiap 2 hari (slowboat). Dan dia menyarankan untuk naik taksi dengan harga 350rb. Tapi, karna perbandingannya terlalu jauh, gua coba untuk cari-cari informasi lain.

Akhirnya gua nanya ke warung yang lain, dan orang di warung itu bilang kalo bis berangkat jam 5. Karna jawabannya beda, jadi gua coba cari warung lain dan nanya lagi. Dan ternyata betul, jawabannya beda lagi. Warung setelahnya bilang kalo bis pertama berangkat jam 4, kemudian gua bilang ke temen-temen gua.

“coy, ini kalo kita Tanya terus-terusan, lama-lama bisnya berangkat jam 2 nih”
“hahahaha” sisambut tawa kami bertiga menghilangkan lelah sesaat.

Setelah banyak bertanya ke banyak sumber, akhirnya gua dapet info kalo ternyata bis yang paling awal berangkat jam 4 pagi, tapi, bisnya nggak masuk terminal, jadi harus jalan ke luar terminal. Akhirnya sekitar jam 3 gua jalan keluar terminal dan menunggu di pinggir jalan dan ternyta banyak juga penumpang yang udah nunggu. Nggak lama nunggu, bis pertama datang sekitar jam 3.15 dan gua langsung rebutan tempat duduk, bis pun langsung pernuh. Tapi, gokilnya walaupun udah penuh, bis nggak langsung berangkat, dia nunggu sampe jam 4 baru berangkat dan sepanjang jalan bis terus naekin penumpang sampe penuh banget.

Sempet ada rasa takut nggak sampe tepat waktu dan ketinggalan kapal, tapi, akhirnya kami sampai di pertigaan menuju pelabuhan jam 5 lewat. Sampe disana, Cuma ada 1 becak yang nawarin dengan orangnya yang terlihaat sudah sangat tua. Gua mikir “ini kayaknya lebih cepet jalan kaki daripada naek becak” dan dengan pikiran seperti itu, gua melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan dengan jalan kaki.

Di tengah jalan, gua sadar kalo terus dilanjutin jalan kaki ini bakal telat, akhirnya gua lari sambil bawa tas segede gaban. Alhamdulillah, baru lari sebentar ada taksi nawarin jasanya.

“mau ke pelabuhan mas? Nggak akan sempet, ini kapalnya udah mau berangkat” Tanya supir taksi, dan untuk pertama kalinya gua percaya omongan supir.
“berapa mas?” Tanya gua
“30rb”
“25rb ya” tawar gua yang kemudian langsung diiyakan, waduh, harusnya gua nawar 20 nih.

Beberapa saat, gua langsung sampe di pelabuhan dan langsung berlari ke loket untuk beli tiket, bukan toket. Setelah itu gua beli rokok dan langsung naek ke kapal. Suasana kapal nggak terlalu ramai dan didominasi orang lokal pulau dan turis asing. Gua langsung mikir, wah, di loket ada tiket, di pantai nanti ada toket nih hahahaha. Setelah 5 jam, akhirnya kami sampai di pelabuhan karimunjawa dan langsung cari info tempat tinggal.

Sambung di postingan selanjutnya ya.

Rincian biaya transport

Bis basecamp prau (patak banteng) – Terminal Wonosobo Rp. 20.000
Bis Terminal Wonosobo – Terminal Terboyo Semarang Rp. 35.000
Bis Terminal Terboyo Semarang – Pertigaan Pelabuhan Kartini Rp. 20.000
Taksi pertiggan ke Pelabuhan Rp. 25.000
Kapal Siginjai (slow boat) Rp 75.000
Kapal fasboat (namanya lupa) Rp. 150.000
Jadwal Slow boat; selasa, kamis, jumat, minggu.
Jadwal fas boat; senin, rabu, jumat, sabtu.

Catatan:
bis Jakarta – Semarang sekitar 120rb

https://1.bp.blogspot.com/-ZIrALZwlauU/W3ruGpG2D9I/AAAAAAAAB1I/8f9S8ErPHcULkxYH4CE5B-yupe4XmBvEACLcBGAs/s72-c/2018-08-14%2B09.33.36%2B1.jpg

Berawal dari baca berita kalo di gunung prau ada salju, gua langsung tertarik pengen balik lagi kesana untuk ngeliat langsung s...


Berawal dari baca berita kalo di gunung prau ada salju, gua langsung tertarik pengen balik lagi kesana untuk ngeliat langsung saljunya dan ngebayangin nyeduh nutri sari tanpa harus beli es batu. Sayangnya, gua baru bisa berangkat 2 minggu setelahnya. Tapi, tetap semangat karna gua masih tertarik sama dinginnya Prau di bulan Agustus dan kebetulan gua baru beli jaket, celana, sleeping bag, dan kaos kaki bulu angsa. Jadi, gua mau nyobain tidur di hammock saat gunung prau lagi dinging-dinginnya untuk membuktikan kesaktian mitos bulu angsa. Tapi tetep gua bawa tenda, untuk jaga-jaga kalo ternyata itu hanya mitos belaka. Lain waktu mungkin gua coba jaket bulu perindu.

Sehari sebelum keberangkatan gua udah baca beberapa referensi transportasi untuk pergi ke gunung Prau via patak banteng. Kesimpulannya gua harus pergi ke terminal Mendolo, Wonosobo, dilanjut naik bis 3/4 ke Patak Banteng.

Perjalanan dimulai sekitar jam 7 malam dari kosan, naik angkot ke terminal Lebak Bulus untuk lanjut bis jurusan Wonosobo. waktu sampe lebak bulus, langsung ada calo yang nyamperin.

“kemana mas?” Tanya terduga calo, tapi kami cuekin “kemana mas?” suaranya makin ngotot
“ke toilet” jawab gua cuek, diikuti tawa kecil 2 temen gua, Ari dan Heru.
“……” terduga calo Cuma diam dan menjauh.

Gua lanjut pergi ke loket tempat resmi pembelian tiket bis, dan gokilnya loket pembelian tiket bis dijaga ketat oleh para calo yang bikin kami terpaksa beli tiket di calo. Akhirnya gua beli tiket dengan harga 120rb hasil tawar menawar yang awalnya dihargai 135rb. Luar biasanya, ada penumpang yang beli tiket yang sama dengan harga 190rb.

Bis berangkat jam 8 malam, awalnya perjalanan mulus lancar sampai akhirnya waktu sampe di banjar Negara, kami dipaksa turun dan pindah bis, tidak sesuai kesepakatan awal di Lebak Bulus. Setelah Tanya-tanya dan adu ngotot sama kenek (supirnya udah tidur) ternyata bis tersebut bukan bis resmi, tapi, bis pariwisata yang dipake buat angkutan trayek. Seharusnya kami naik sinar jaya, tapi kami malah naik bis pariwisata setia kawan.

Gua terpaksa nunggu terminal banjar Negara satu jam lebih sampai ada bis jurusan wonosobo. akhirnya gua sampe di terminal Mendolo, Wonosobo jam 8 pagi terus lanjut makan pagi. Waktu makan pagi, lagi-lagi ada calo yang nyamperin.

“mau ke mana mas?” Tanya calo
“ke Patak Banteng mas” jawab gua
“ayo mas, itu ada bisnya”
“iya mas, kita siap-siap dulu trus mau beli logistik dulu di indomart”
“ini bis terakhir mas” dia mengeluarkan kata-kata sakti calo.

Mendengar ucapan sakti calo itu keluar di pagi hari, gua sama temen-temen gua nahan ketawa dan si calo pun sadar, keliatan dari mimik mukanya yang berubah dari wajah yakin jadi wajah naruto. Dia pun meralat ucapannya.

“ada lagi jam 2 loh mas, nggak apa-apa?” Tanya si calo mencoba yakin.
“nggak apa-apa mas, kita nggak buru-buru kok” jawab gua sambil nyeruput kopi.
“yakin nggak apa-apa? Ada lagi sore loh” jawab si calo berubah lagi
“lah tadi katanya jam 2?” Tanya gua diikuti raut wajah calo yang berubah lagi, calo itu diam kemudian jawab.
“ya jam 2 itu udah sore mas” jawab dia ragu-ragu.
“nggak apa-apa mas” gua udah males nanggepin, diikuti kepergian dia dengan langkah malu-malu.

Setelah percakapan unik dengan calo, gua lanjut beli logistik ke indomart yang ada di depan terminal dilanjut santai-santai. Kita santai karna pendakian Prau via Patak Banteng adalah jalur tercepat. Akhirnya jam 10 gua balik lagi ke terminal cari bis untuk ke Patak Banteng. Waktu dapet bisnya (bis 3/4) ternyata disitu ada calo yang tadi, waktu gua nyamperin bisnya si calo langsung pergi, mungkin malu. Bis berangkat jam 11 dan sampai di Patak Banteng jam 1. Setelah duduk santai di basecamp (ketinggian 2000mdpl) dan melakukan registrasi pendakian dengan biaya 10rb perorang, pendakian dimulai jam 14.30.

Saran gua, kalo sampe terminal yang baru lu tuju, cari petugas berseragam kalo mau tanya-tanya dan usahakan beli tiket resmi di loket yang resmi untuk menghindari penipuan.

dan berikut rincian jalur gunung prau via patak banteng

Basecamp-pos1

Dari basecamp ke pos 1 cuma makan waktu 15 menit dengan awal menaiki tangga-tangga khas perkampuangan dekat-dekat jalur pendakian.  Sampai di pos 1 jam 14.45 dengan ketinggian 2132MDPL

Pos 1 – pos2

Dari pos 1 ke pos 2 jalan masih agak santai dan masih banyak warung-warung sepanjang jalan, pos 2 persis ada setelah warung terakhir. Sampai di pos 2 ketinggian 2250MDPL jam 14.15, waktu perjalanan sekitar 30 menit.

Pos2 – pos3

Jalur terjal dimulai dari pos 2 sampai ke puncak, cukup memakan energi (minum makanan bergizi). Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk istirahat sejenak, diawali satu batang roko, kemudian bertambah jadi 2 batang rokok, lanjut 3 batang rokok, sampai akhirnya tersadar udah duduk hamper 1 jam. Sayang sekali waktu itu dihabiskan hanya untuk menghisap rokok, seharusnya bisa buat namatin metal slug. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dan sampai di pos3 ketinggian 2400mdpl jam 16.45.

Pos3-puncak

Tanpa disangka-sangka, setelah jalan 25 menit walaupun dengan jalaur yang terjal, kami sampai di puncak, sekitar jam 17.10 dengan ketinggian 2560mdpl.

Setelah itu gua langsung ke tempat yang paling tinggi untuk menikmati matahari terbenam sambil buka nesting dan bikin kopi. Sayangnya, saat itu cuaca berawan jadi sunset-nya kurang ajib. Beres liatin matahari turun, gua langsung cari tempat buat diriin tenda disebelah pohon-pohon yang pas buat gantungin hammock.

Suhu malam itu di sekitaran angka 10 derajat celcius, lumayan dingin. Dua temen gua masuk tenda lanjut tidur setelah makan-makan, sedangkan gua tidur di hammock buat nyobain jaket, celana, sleeping bag bulu angsa yang baru gua beli. Dan terbukti, gua bisa tidur di hammock semalam dengan menggunakan peralatan serba bulu angsa disaat 2 temen gua ngeluh kedinginan waktu bangun pagi. Akhirnya gua nggak perlu beli jaket bulu perindu.

Gua bangun telat sekitar jam 07.00 dan nggak sempet ngeliat sunrise di gunung Prau yang justru itu yang paling bagus di Prau. Bangun pagi gua Cuma bisa ngeliat raut wajah bahagia para pendaki lainnya setelah foto-foto di sunrise Prau. Setelah masak-masak, gua pergi foto-foto di Prau dengan ciri khas pemandangannya, gambar gunung di bungkus Aqua.

*


Setelah puas foto-foto, gua lanjut ngopi dan makan cemilan terus beberes tenda kemudian packing. Perjalanan turun dari puncak ke basecamp cuma makan waktu 2 jam.

Rincian biaya
Bis Lebak Bulus – Wonosobo (Mendolo) Rp 120.000
Bis Wonosobo (Mendolo) Rp 20.000
Administrasi Prau Rp 10.000
Logistik Rp terserah elu

Catatan:
Gas banyak di jual di basecamp Patak Banteng

https://3.bp.blogspot.com/-tvH4-BXFTbI/W2986JalpGI/AAAAAAAABxo/7u1kBmFMizouzx68mM4B21lY_ZCn-FPUACLcBGAs/s72-c/erwin%2B7.jpg

“TEEEETTTTT!!!!” suara kelakson motor saut-sautan di jalan karna tiba-tiba ada angkot berhenti di tengah jalan. Beberapa saat kemudi...


“TEEEETTTTT!!!!” suara kelakson motor saut-sautan di jalan karna tiba-tiba ada angkot berhenti di tengah jalan. Beberapa saat kemudian angkot tersebut jalan, dan motor di depan gua langsung motong angkot tersebut dari kanan.
“GOBLOK!!!” teriak pengendara motor tersebut diikuti tarikan gas meninggalkan angkot dengan cepat. Mungkin dia takut supir angkot balik ngatain “KALO PINTER GUA JADI DOSEN!!!”. Tapi setidaknya perasaan gua terwakilkan.

Setelah itu gua lanjutkan perjalanan gua dari bogor ke GOR Bulungan untuk nonton show salah satu komik, seorang teman yang sudah cukup lama gua kenal, Erwin. Untuk noton show ini gua sampe menunda keberangkatan gua untuk traveling.

Mungkin banyak yang nggak kenal Erwin, ya karna dia emang kaga terkenal, beberapa kali gagal masuk SUCI. Bahkan, dia pernah pergi ke Surabaya dengan 2 orang temennya dan Cuma dia yang nggak dapet golden tiket SUCI, perih.

Tapi, bertahun-tahun bergelut di dunia stand up dan beberapa kali gagal lolos audisi, dia tetap bertahan di stand up, tidak seperti kebanyakan yang hilang tanpa kabar. Bahkan, dia berani buat tour yang ketika komik –komik dengan followers ribuan pun terkadang ragu (gua salah satunya). Itulah yang membuat gua meluangkan waktu gua untuk menonton show dia, rasa hormat.



Sering kali ketika gua pergi ke komunitas, kemudian sharing dengan mereka. Gua mendengar hilangnya komik karna patah semangat tidak lolos audisi. Buat gua, yang seharusnya dipertanyakan adalah “apa tujuan bergelut di seni stand up comedy dan masuk komunitas?” suka? Masuk tv? Coba-coba?  Gaya? Atau agar bisa nulis stand up comedian di bio twitter/instagram? Atau mungkin supaya bisa buka jasa stand up di OLX? (pernah ada).

Buat gua, yang utama seharusnya dimiliki seorang komik adalah rasa cinta terhadap kesenian ini, bukan hanya keinginan untuk masuk tv. Erwin adalah bukti bahwa tidak perlu terkenal dan masuk tv untuk membuat special show bahkan tour.

Dulu, awal gua ikut stand up, nggak ada pikiran untuk masuk tv, gua Cuma suka. Nggak punya panggung setelah sekian lama, bahkan ketika gua udah menang banyak lomba. Ya, akhirnya gua bikin SUN1UIN dengan keringat darah mencari penonton. Sampai akhirnya 4 tahun kemudian di 2018 SUN4UIN, baru 1 minggu langsung sold out. Dan spesial show 1 jam oleh komik lokal, bahrul alam.



Bahrul alam juga sudah beberapa kali gagal audisi 2 kompetisi TV. Ikut audisi di luar kota bareng jupri (SUCI7), jupri lolos, dia nelen ludah. Awalnya gua takut dia hilang patah semangat seperti kebanyakan. Tapi, bangun dan tetap lanjut di stand up bahkan buat special show (sold out) mengalahkan jupri yang sudah masuk SUCI. Lagi-lagi ini bukti bahwa tidak masuk TV bukanlah akhir dari segalanya.

Hormat saya dzawin si tampan
Ciputat 12/08/18
https://2.bp.blogspot.com/-WHWK_9jHZXw/WpiKkk-htgI/AAAAAAAABlI/WtnkPSiRouYGSXJyBkhAFkh-rlXzNnYJACK4BGAYYCw/s72-c/IMG_20180302_035428.jpg

“oi win, lepak kt rumah aku lah” ajak Issey, temen gua di Malaysia. “ok lah” jawab gua mengiyakan sambil menikmati kekalahan mobile l...


“oi win, lepak kt rumah aku lah” ajak Issey, temen gua di Malaysia.
“ok lah” jawab gua mengiyakan sambil menikmati kekalahan mobile legend.

Gua dan Issey pun bergegas pergi dari kantor selepas semua pekerjaan selesai. Sampai depan apartement, gua mampir ke seven eleven (yang udah jadi mitos di Indonesia) untuk sekedar beli cemilan sebagai teman ngobrol. Gua beli botol besar aer putih dan coca cola. Sedangkan issey, dia nggak beli apa-apa, tapi, dia yang bayar.

Sampai dalam rumah, obrolan dimulai dengan segelas coca cola dan sebatang rokok dilanjut tawa dari hal-hal yang tidak terlalu penting. Sampai akhirnya malam tiba, issey pergi tidur, dan gua pergi main mobile legend untuk membalas kekalahan yang akhirnya kalah juga hahahaha.

Gua berhenti maen mobile legend, bakar sebatang dan kembali mengisi gelas dengan coca cola. Sampai akhirnya gua tersenyum karna terpikir betapa mudahnya gua beli coca cola sekarang (Alhamdulillah) karna dulu gua kalo mau beli coca cola botol besar, mungkin sekitar sebulan sekali. Karna, dulu emak gua harus sangat menghemat agar anak-anaknya bisa bersekolah di sekolah yang bagus.

Kemudian kepala gua mulai teringat banyak hal yang dulu gua rasa tidak mungkin. Seperti pada saat pertama kali gua pergi ke Jawa Timur.

“win, sini win” panggil nopiar sambil membuka tas nya di stasiun senen, Jakarta, dan gua pun mendekat.
“liat nih win” dia menunjukan golok di dalam tasnya. Gua ingat batang golok itu ada ukiran kepala macan.
“HAHAHAHAHAHA GELO SIA” tawa gua “ngapain bawa gituan?”
“biar aman win” jawab dia yakin “biar nanti kalo ada yang macem-macem kita keluarin”

Gua cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa. Setelah solat jum’at kami masuk ke stasiun untuk naik kreta Super Ekonomi Matarmaja. Dulu, kreta ekonomi memiliki sistem tempat duduk siapa cepat dia dapat angkat pantat hilang tempat. Alhamdulillah kami dapat tempat duduk setelah berjuang berlari di koridor kreta.

Pertama kali duduk, kami bersyukur karna banyak yang ga kebagian tempat duduk dan harus berdiri. Tapi, lama-kelamaan rasa sukur ini berubah menjadi kufur nikmat sedikit demi sedikit, karna tempat duduknya memiliki sandaran terlalu tegak yang kurang manusiawi hahahahaha (pegel anjeeerrrr).

Singkat cerita, sampailah kreta di stasiun Cirebon, biasanya, di stasiun ini orang-orang banyak keluar dari kreta untuk beli makanan atau sekedar mencari nafas segar setelah berjam-jam dalam keadaan tersiksa, di stasiun Cirebon biasanya kreta berhenti cukup lama.

Gua pun keluar untuk menghirup udara yang lebih manusiawi, dan juga menghisap sebatang rokok, mau beli makanan tapi mikir “kalo beli nasi sekarang, nanti sampe Kediri lapar lagi” dengan konsep berpikir itu lah gua menunda untuk membeli nasi.

Baru setengah batang rokok terhisap, datang kreta eksekutif (kalo ga salah namanya gaya baru malam). Dari luar terlihat kaca kreta berembun tanda adanya ace dalam kreta. Kemudian gua mengintip ke dalam kereta layaknya anak pedalaman yang mengintip anak beruntung lainnya yang dapat bersekolah.

Terlihat kursi yang sangat luas dengan leg room  yang luas juga. Kalo di kreta ekonomi, lutut kita akan bertemu dengan lutut penumpang lainnya. Kalo lagi apes dapet tempat duduk depan orang yang tinggi, ga jarang lutut dia masuk ke selangkangan gua.

Saat itu gua berpikir “orang kayak gimana ya yang naik kreta eksekutif? Kerja apa ya dia?” karna saat itu harga kreta ekonomi adalah 45rb, sedangkan eksekutif 300rb-an. Pada saat itu gua berpikir orang seperti apa yang rela mengeluarkan ongkos lebih dari 6 kali lipat hanya untuk mendapatkan kenyamanan.

Kembali gua tersenyum mengingat itu, karna, sekarang gua lah yang naik kreta eksekutif. Bahkan disaat gua nulis ini, air mata gua nggak sengaja keluar dan harus sejenak menjauhkan jari dari keyboard laptop untuk menyapu mata. Karna, gua nggak nyangka sekarang sedikit demi sedikit gua sudah menjadi apa yang gua hayalkan dulu.

Tanpa ada niat untuk sombong, gua menulis ini untuk kembali mengingat apa saja perubahan yang sudah terjadi, dan apa saja yang masih belum berubah. Karna, terkadang kita butuh cermin.

 Mahfudzot yang pertama kali gua pelajari adalah “man jadda wajada” yang artinya “barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka berhasil lah dia” gua yakin bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Terkadang gua menangis waktu nyetir dalam hujan, karna gua nggak perlu lagi meneduh. Atau karna gua belum sempat ngajak emak gua ke taman safari.


Damansara, 03-02-2018





https://2.bp.blogspot.com/-_uvVr9hX__4/Wo_z7Nr2YqI/AAAAAAAABkk/BUaRgcH2WiEcDEHx44VnJ6ualT9qv2j4wCLcBGAs/s72-c/dzawin%2Bmenang.jpg

“nih bang” gua menjulurkan tangan ke bapak-bapak yang bisa baca garis tangan di Kota Tua, Jakarta. “hhhmmmm” dia mengelus-ngelus tanga...


“nih bang” gua menjulurkan tangan ke bapak-bapak yang bisa baca garis tangan di Kota Tua, Jakarta.
“hhhmmmm” dia mengelus-ngelus tangan gua
“kamu ini playboy” lanjut si bapak
“hahahahahahahaha” kami menyambut jawaban si bapak dengan tawa yang besar, karna pada saat itu gua udah jomblo 3 tahun lebih.
“ciieeee jawin playboy” teriak Umar yang tau gua ini malu kalo liat cewe.
Gua tetap mendengarkan si bapak, mencoba untuk menghargai dia.
“ini nama garisnya ini (gua lupa namanya), kamu ini rezeki ada di perantauan” lanjut si bapak

Itu adalah cerita tahun 2010 waktu gua pertama kali liat tukang baca garis tangan dan mencobanya di Kota Tua, Jakarta.

Sekarang gua udah tinggal di Kuala Lumpur, Malaysia. Rasanya kayak mimpi sebetulnya. Sedikit demi sedikit bucket list yang gua tulis dari SMP mulai tercoret satu persatu. Seperti; masuk tv, beli motor, beli mobil, jadi presenter, diundang talkshow (walaupun dulu gua berharap diundang sebagai cendikiawan, bukan comedian hahahaha), dan masih banyak lagi.

Mimpi itu terwujud perlahan dengan usaha yang cukup berat, mimpi lama terwujud, mimpi baru terlahir, begitu terus sampai meninggal.

Cukup banyak pertanyaan yang datang ke gua, seperti ketika gua nongkrong di warkop depan asrama.
“win, betah tinggal di Negara orang?” Tanya temen gua.
“betahin aja” jawab gua simple kemudian lanjut maen mobile legend

Awalnya harus diakui gua cukup tersiksa dengan perbedaan budaya yang ada di Malaysia, terutama bahasa. Mungkin kita sering dengar bahasa di Malaysia dari cerita Ipin Upin di TV, tapi, bahasa sehari2 yang ada di sini cukup jauh berbeda. Layaknya bahasa sinetron yang ada di TV, kita ga pernah menggunakan bahasa tersebut di kehidupan sehari-hari kan.

Ga mungkin kita mau makan indomie di warkop
“mau makan apa dik?” Tanya tukang warkop
“paman, tolong buatkan saya semangkuk mie dengan telur setengah matang di atasnya”
“baiklah dik, akan paman buatkan” jawab si tukang warkop.

Yang terjadi adalah
“mang, mie telor satu”
“minumnya?” Tanya si tukang warkop.
“es teh” kemudian duduk dan si mamang masak.

Awal-awal bahkan gua menyempatkan diri untuk pergi ke SIKL (Sekolah Indonesia Kuala Lumpur) hanya untuk bisa berbicara bahasa Indonesia. Tapi, lama kelamaan gua semakin bisa menyesuaikan diri dengan budaya yang ada. Sedikit demi sedikit gua pelajari bahasa yang ada disini, bukan Cuma itu, gua juga mencoba untuk mempelajari aksen setempat. Sulit.

Untungnya gua dari dulu sudah terbiasa ikut banyak organisasi dan bertemu dengan berbagai macam jenis orang, sehingga mungkin itu yang membantu gua untuk lebih mudah menyesuaikan diri dan berbaur dengan orang baru disini.

Dan yang terpenting yang membuat gua bertahan tinggal di negri orang adalah, hal yang gua pelajari tahun 2005 silam.
“safir tajid iwadon amman tufarikuhu”
yang artinya:
“berkelanalah (merantaulah) maka kau akan dapat ganti dari yang kau tinggalkan”

Itu yang menjadi salah satu moto hidup gua. kosan gua tinggal di Jakarta, gua dapet kosan baru di Kuala Lumpur. Mobil gua tinggal di Jakarta, gua dapet mobil baru di Kuala Lumpur. Dan yang terberat adalah teman gua tinggalkan di Jakarta, tapi, gua dapat teman baru di Kuala Lumpur (bukan berarti memutus silaturahmi).

Yang ingin gua sampaikan adalah “jangan pernah takut meninggalkan yang kita miliki, karna nanti pasti tuhan ganti”


                                                                                                             salam dari Kuala Lumpur